Hari Film Nasional 2016 : Solo Menonton Kantata Takwa

kantata-takwa-prakosa

Kelompok pemutaran film-film alternatif di Solo Kisi Kelir bekerjasama dengan Medang Kamulan Creative akan menyelenggarakan pemutaran film. Agenda pemutaran ini diberi tajuk “Solo Menonton Kantata Takwa”. Acara diselenggarakan pada hari Rabu (30/3/2016) pkl 19.00 WIB di 9 (sembilan) titik lokasi Kota Solo. Program ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Film Nasional (HFN) setiap tanggal 30 Maret.

Kantata Takwa merupakan film dokumenter musikal berdurasi 72 menit besutan sutradara Eros Djarot dan Gotot Prakosa. Film ini dibuat berdasarkan konser akbar proyek seni Kantata Takwa di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, tahun 1991 silam. Konser ini adalah simbol perlawanan dan oposisi terhadap pemerintah penguasa saat itu. Simbol oposisi disuarakan dengan lantang melalui syair dan lagu yang sarat dengan nuansa teatrikal.

Film ini adalah sebuah puisi kesaksian dari para seniman Indonesia tentang masa represif rezim Orde Baru saat itu. W.S. Rendra, Iwan Fals, Sawung Jabo, Jockie Surjoprajogo, dan Setiawan Djodi merupakan tokoh tokoh yang hadir dalam layar. Mereka membawakan suara kesaksian yang ditumpahkan dalam konser akbar, dalam pertunjukan seni “KantataTakwa”.

Pada awal proses pembuatan, film yang di-shoot dengan kamera 35mm ini didukung oleh banyak sineas Indonesia. Namun tragisnya, banyak yang diantaranya telah meninggal sebelum film ini diselesaikan dan dirilis.

iwan fals dalam film kantata takwa
Iwan Fals dalam salah satu adegan di film Kantata Takwa

 

Film Kantata Pasca Reformasi

Karya monumental ini dalam pembuatanya membutuhkan waktu sekitar 18 tahun hingga akhirnya dapat dirilis pada tahun 2008. Berbagai kesulitan sempat dilewati, karena film ini memang sarat dengan tema sosial politik dan kritikan yang tajam. Khususnya pada sistem pemerintahan Orde Baru saat itu.

Film Kantata Takwa  diputar secara premier di Indonesia mulai tanggal 26 September 2008. Bertempat di jaringan bioskop Indonesia Blitzmegaplex Jakarta dan berlanjut dalam berbagai pemutaran di festival film internasional.

Setelah datangnya era reformasi di Indonesia, film ini akhirnya dapat dilepaskan dari belenggu represif. Walaupun para kritikus film Indonesia sangat menyayangkan keterlambatan film ini. Meski umumnya mendapat sambutan positif, film ini mendapat kritik yang bercampur antara masih relevan atau tidaknya dengan kehidupan dan situasi Indonesia setelah era reformasi

Film Kantata Takwa diputar serentak di Solo

Solo sebagai kota seni dan budaya, saat ini memiliki banyak “ruang publik” yang dijadikan sebagai ruang alternatif untuk berkesenian. Ruang-ruang yang dimanfaatkan sebagai lokasi pemutaran ini tumbuh dari semangat kebersamaan generasi muda dan tua untuk membangun kesadaran akan pentingnya ruang apresiasi untuk berkesenian dan berkarya sesuai dengan latar belakangnya.

Ruang pemutaran film Kantata Takwa :

Camp Brown Cinema Corner 

Sebuah kafe yang mempunyai konsep micro cinema yang memutarkan film-film alternatif setiap dua minggu sekali. Lokasi: Di jalan Honggowongso 117 B Serengan bersebelahan dengan Toko Sepatu Bakti Solo.

Cangwit Creative Space 

Ruang kreatif yang mempunyai platform pemanfaatan ruang public sebagai market, ruang kreatif untuk berbagai latar belakang komunitas untuk aplikasi industri kreatif. Lokasi: Lantai 2 PasarPucangSawit Solo.

Ruang Seni Daya Joeang, 

Sebuah galeri seni rupa yang diinisiasi oleh Garis Cakrawala Indonesia Visual Art Company, yang sarat dengan nilai historis, ruang pergerakan inisisasi anak muda perupa di Solo yang baru-baru ini telah dibuka. Lokasi :Dipusat kota Solo di area bekas markas militer Jalan Mayor Sunaryo No.4, Eks Brigif 6/2 Samping komplek Beteng Trade Center Solo.

PAKEM Co-Working Space, 

Area lantai-2 Pasar Kembang Solo yang beralih fungsi menjadi tempat bertemunya para stake holder pelaku seni, pebisnis, pegiat industri kreatif maupun investor yang berbeda latar belakang untuk menggagas sesuatu. Lokasi :Lantai-2 Pasar Kembang Solo

Ruang Atas Art Space,

Sebuah ruang kreativitas yang digunakan untuk fungsi mini art space, artshop, ruang residensi dan workshop untuk seniman-seniman muda yang memiliki latarbelakang seni rupa. Lokasi : Debegan RT 03 RW 06 Mojosongo Solo

Sodoc ISI Surakarta, 

Sebuah komunitas di bawah lembaga Institut Seni Indonesia yang mempunyai fokus untuk apresiasi film-film dokumenter. Lokasi: Gedung Pasca Sarjana ISI Surakarta.

Biru Studio,

Studio musik yang telah berdiri sejak lama di kota Solo yang mempunyai pengaruh terhadap iklim musik independen di Solo. Lokasi: Jln. Cokrobaskoro No.50 Tipes Serengan Solo.

Lantai-2 Kusumasari Kemlayan Solo,

Ruang berkesenian yang digagas oleh Sardono W Kusumodan Hanindawan untuk mewadahi seniman-seniman dari berbagai latar belakang keilmuan untuk melakukan aktivitas berkesenian. Lokasi: Lantai 2 Rumah Makan Kusuma Sari Solo.

Sekretariat Solo International Performing Arts.

Sanggar kesenian yang fokus terhadap cabang kesenian tari dan performing arts. Lokasi : Jalan Kedasih No. 22 Kerten Solo.

Gerakan Budaya seperti halnya Kantata Takwa semakin sulit ditemukan di era sekarang. Akan tetapi lewat tontonan film Kantata Takwa pada momentum Hari Film Nasional tahun ini diharapkan bisa memberi inspirasi, melahirkan genarasi yang kritis, dan  mampu melahirkan karya-karya sesuai dengan tata keilmuan yang digeluti.

(sumber: kantatatakwa.wordpress.com)

Cp: Zen Al-Ansory

082225847790/08886745602

[email protected]

Baca Juga : Ziarah, Film Bahasa Jawa Ini Masuk Nominasi Piala Citra FFI 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *